
Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya buka suara terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat di tengah tekanan pasar global.
Pelemahan rupiah terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia akibat konflik geopolitik, penguatan dolar AS, dan arus keluar modal dari negara berkembang.
Menurut Purbaya, tekanan terhadap rupiah saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga situasi global yang mendorong investor mencari aset aman seperti dolar AS.
Ia menilai lonjakan harga energi dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memperbesar tekanan terhadap mata uang negara-negara emerging market, termasuk Indonesia.
Pengamat pasar keuangan menyebut pelemahan rupiah hingga level tersebut menjadi salah satu yang terberat dalam beberapa tahun terakhir.
Selain sentimen global, pasar juga mencermati arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang masih berpotensi bertahan tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Kondisi itu membuat dolar AS terus menguat terhadap berbagai mata uang dunia dan meningkatkan tekanan pada pasar keuangan Asia.
Meski demikian, Purbaya menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibanding sejumlah negara berkembang lainnya.
Ia juga menyoroti pentingnya koordinasi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar serta kepercayaan investor terhadap pasar domestik.
Bank Indonesia sebelumnya menegaskan akan terus melakukan langkah stabilisasi di pasar valuta asing dan menjaga likuiditas guna meredam volatilitas rupiah di tengah gejolak ekonomi global.
