
Pergerakan mata uang Asia cenderung tipis pada perdagangan Kamis (14/5), di tengah penguatan dolar Amerika Serikat yang masih membebani pasar keuangan regional. Won Korea Selatan dan peso Filipina menjadi dua mata uang yang mengalami tekanan paling besar dibanding mata uang Asia lainnya.
Penguatan dolar AS dipicu ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed yang diperkirakan tetap tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Kondisi tersebut mendorong investor global kembali memburu aset berbasis dolar.
Korea Selatan dan Filipina menjadi salah satu negara yang mata uangnya tertekan akibat arus modal asing yang bergerak lebih hati-hati di pasar negara berkembang.
Selain won dan peso, sejumlah mata uang Asia lainnya seperti baht Thailand, ringgit Malaysia, dan rupiah Indonesia juga bergerak terbatas di tengah ketidakpastian pasar global.
Pelaku pasar saat ini mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat serta perkembangan inflasi global yang masih memengaruhi sentimen investor. Tingginya imbal hasil obligasi AS juga membuat aset negara berkembang menghadapi tekanan tambahan.
Pengamat pasar keuangan menilai penguatan dolar AS berpotensi meningkatkan volatilitas mata uang Asia dalam jangka pendek, terutama apabila ekspektasi penurunan suku bunga The Fed kembali tertunda.
Di sisi lain, bank sentral di berbagai negara Asia diperkirakan tetap menjaga stabilitas pasar melalui intervensi dan kebijakan moneter untuk meredam pelemahan mata uang domestik yang terlalu tajam.
Pergerakan nilai tukar juga dipengaruhi kondisi geopolitik global dan harga komoditas yang masih fluktuatif dalam beberapa pekan terakhir.
Investor diperkirakan akan terus memantau data ekonomi Amerika Serikat dan perkembangan pasar obligasi global untuk menentukan arah investasi di kawasan Asia dalam waktu dekat.

