Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan teknologi canggih milik Amerika Serikat (AS) tidak dapat menghindari sistem pengawasan Iran di kawasan Selat Hormuz. Pernyataan tersebut disampaikan juru bicara IRGC Hossein Mohebbi pada Selasa (8/9).
Mohebbi mengatakan keberadaan drone bawah laut militer AS yang ditemukan Iran menjadi bukti bahwa sistem pengawasan yang diterapkan di Selat Hormuz mampu mendeteksi teknologi canggih. Menurutnya, perangkat tersebut tidak berhasil melewati sistem pemantauan Iran.
โTidak ada teknologi canggih yang dapat melewati lapisan sistem pengawasan kami di Selat Hormuz,โ kata Mohebbi seperti dikutip IRGC.
Sebelumnya pada hari yang sama, IRGC mengumumkan telah menyita sebuah drone bawah laut militer AS jenis Dive-LD. Perangkat tersebut disebut sebagai teknologi canggih dan ditemukan di pintu masuk Selat Hormuz.
IRGC juga memublikasikan foto perangkat yang diklaim telah disita tersebut. Penemuan itu kemudian menjadi dasar bagi Teheran untuk menegaskan kemampuan sistem pengawasan militernya dalam mendeteksi aktivitas teknologi bawah laut di salah satu jalur pelayaran strategis dunia.
Selat Hormuz memiliki posisi penting dalam perdagangan energi internasional karena menjadi jalur utama bagi lalu lintas kapal yang mengangkut minyak dan berbagai produk energi dari kawasan Teluk. Aktivitas militer di wilayah tersebut karena itu menjadi perhatian dalam perkembangan keamanan regional.
Klaim IRGC tersebut muncul di tengah ketegangan panjang antara Iran dan AS. Pada 28 Februari, pasukan AS dan Israel dilaporkan melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran. Teheran kemudian merespons dengan serangan terhadap pihak yang terlibat dalam konflik tersebut.
Situasi sempat memasuki fase diplomatik pada pertengahan Juni ketika Iran dan AS menandatangani sebuah memorandum yang bertujuan menghentikan permusuhan. Kesepakatan tersebut diharapkan dapat meredakan konfrontasi antara kedua negara.
Namun, upaya penghentian permusuhan tersebut tidak berlangsung lama. Iran dan AS kemudian kembali saling melancarkan serangan, sehingga ketegangan di kawasan kembali meningkat.
Dalam situasi tersebut, aktivitas dan teknologi militer di sekitar Selat Hormuz menjadi semakin sensitif. Penemuan drone bawah laut yang diklaim IRGC sebagai milik militer AS dapat memperkuat kekhawatiran mengenai aktivitas pengawasan dan operasi militer di kawasan strategis tersebut.
Pernyataan Mohebbi juga menunjukkan bahwa Teheran ingin menegaskan kemampuan militernya dalam mengawasi wilayah perairan strategis. Namun, klaim mengenai drone dan kemampuan sistem pengawasan tersebut merupakan pernyataan dari pihak Iran dan menjadi bagian dari perkembangan konflik antara kedua negara.



