Presiden Argentina Javier Milei kembali menegaskan sikap keras pemerintahannya dalam memperjuangkan klaim kedaulatan atas Kepulauan Falkland, yang dikenal Argentina sebagai Malvinas. Pernyataan tersebut disampaikan ketika ketegangan diplomatik dengan Inggris terkait status wilayah sengketa kembali menjadi perhatian internasional.
Melalui sejumlah unggahan di platform X pada Rabu, Milei mengatakan dirinya akan menyampaikan pidato secara nasional pada Kamis pukul 21.00 waktu setempat. Ia menyebut isu Malvinas sebagai salah satu persoalan yang memiliki nilai sangat penting dan strategis bagi Argentina.
Milei menegaskan bahwa pemerintahannya akan terus memperjuangkan kepentingan nasional Argentina tanpa memperhitungkan pihak-pihak yang mungkin keberatan dengan sikap tersebut. Ia juga menyatakan bahwa persoalan kedaulatan nasional Argentina masih menjadi isu yang belum terselesaikan.
Pernyataan Milei muncul setelah pemerintah Inggris kembali menegaskan posisinya mengenai Kepulauan Falkland. Downing Street pada Selasa menyatakan komitmen London terhadap wilayah tersebut tetap kuat. Penegasan itu disampaikan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan adanya peninjauan terhadap posisi Washington mengenai sengketa Falkland.
Sikap Inggris juga diperkuat oleh Menteri Pertahanan Bayangan James Cartlidge. Ia menolak klaim Argentina dan mengatakan Falkland merupakan bagian dari Inggris. Menurutnya, pasukan Inggris telah memberikan pengorbanan besar dalam mempertahankan wilayah tersebut dan hak warga Falkland.
Sengketa Falkland memiliki sejarah panjang. Pada 1982, junta militer Argentina menginvasi kepulauan tersebut, yang kemudian memicu perang selama sekitar 10 pekan. Konflik berakhir dengan kemenangan Inggris dan wilayah itu tetap berada di bawah kendali London.
Persoalan Malvinas juga kembali mencuat dalam konteks olahraga. Pada semifinal Piala Dunia 2026 di Atlanta, Argentina mengalahkan Inggris dengan skor 2-1. Seusai pertandingan, sejumlah pemain Argentina terlihat membentangkan spanduk bertuliskan โLas Malvinas son Argentinasโ.
Aksi tersebut mendapat respons keras dari pejabat Inggris dan berujung pada proses disipliner FIFA terhadap Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA). FIFA menilai penggunaan pertandingan untuk menyampaikan pesan politik berpotensi melanggar ketentuan disiplin terkait tindakan non-olahraga.



